Tips maknyoss guru now
Tips maknyoss
guru now
Sebelum
terjun
Beberapa
tahun sekali, kurikulum berganti nama. Sekitar sebelas kali ganti kurikulum.
Zaman kita sekolah SD dulu, kurikulum tahun 1975-an, kemudian direvisi menjadi
kurikulum 1984, terus disempurnakan lagi
menjadi kurikulum 2004, dua tahun setelahnya menjadi KTSP 2006, dan sekarang
kurikulum 2013.
Bergantinya
kurikulum, secara otomatis berganti juga
sistem dan cara penggunaannya di sekolah. Buku-buku ganti judulnya, bertambah
banyak materinya. Metode-metode bervariasi disisipkan. Teknik mengajar harus
menyesuaikan kebutuhan. Penyempurnaan
disana sini, supaya pas dengan zaman. Begitulah perjalanannya.
Sekian
tahun perjalanan kurikulum, ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. Yakni
sejarah perjalanan yang telah kita lewati. Suka duka dalam melaksanakan
pengajaran di kelas, dari tahun ke tahun, kita rasakan. Dari kurikulum lama sampai yang terbaru. Semua
itu jadi pengalaman yang tak terlupakan.
Guru,
sebagai ujung tombak pendidikan, suka tidak suka, siap atau tidak, wajib
mengikuti dan mengajarkan yang terbaru, sesuai zamannya. Guru dituntut harus up
date. Numpang slogan sepeda motor, “selalu di depan”, begitulah guru. Iya sih, tapi yang kemarin aja belum
paham-paham sudah ganti lagi. Terus besok ganti apa lagi? Itu wajar. Setiap
guru mesti mengalami kejenuhan mengikuti pembaharuan. Apalagi berurusan dengan
membuat perangkat mengajar di kelas. Ya apa iyaa?
Untuk
memudahkan memahami dan mengusir kegalauan anda, saya tuliskan buku ini. Anda
sudah siap untuk menyimaknya?
Di buku ini
saya tulis semudah mungkin. Saya tahu anda orang yang nggak sabaran dan ingin
segera tahu apa yang harus diperbuat bukan? Selain itu ingin menjadi guru yang
terdepan. Okee... berdoa menurut agama masing-masing. Kita go...
Pembekalan
Sebelum
lanjut ke materi pembelajaran, mari pahami dulu apa itu kurikulum 2013.
Selanjutnya kita sebut K 13, supaya mudah ditulis dan mudah diingat.
K 13 adalah
kurikulum berbasis kompetensi abad 21, yaitu kurikulum yang disempurnakan,
berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Artinya, pembelajaran yang harus kita
ajarkan, kembali ke hakikat dan berpedoman pada lambang negara kita, yaitu
Pancasila. Lho, apa kemarin belum pancasilais? Sebenarnya mulai dulu sudah
seperti itu, hanya saja belum difokuskan pada semua butir.
Seringnya
terjadi penyimpangan yang dilakukan siswa bahkan mahasiswa, seperti perilaku
negatif, ( tawuran, konsumsi narkotika, ngelem, mencuri, sex bebas dan
lain-lain), membuat dunia pendidikan kita tercoreng. Karena itu, pemerintah
menginginkan nilai-nilai pancasila kembali diterapkan secara spesifik dan
kontinyu di sekolah-sekolah. Mengapa bukan langsung ke masyarakat yang
bermasalah?
Usia
sekolah adalah usia paling rawan terhadap hal negatif. Dimana pada usia itu,
anak-anak belum mampu menyaring secara efektif berita atau kejadian yang ada di
masyarakat. Anak dalam fase lebih banyak meniru, tanpa berfikir itu keliru.
Oleh karena itu, tugas guru untuk memberi pemahaman tentang yang baik dilakukan
dan meminimalisir pengaruh negatif yang
masuk. Dalam hal ini, tentunya gurunya harus berusaha jadi contoh dulu. Jangan
dibalik, guru mencontohi muridnya.
Paling
mendesak, harus dilakukan sekarang diantaranya
memperkuat karakter siswa melalui program penguatan karakter di sekolah. Mengembalikan
pendidikan budi pekerti dan sopan santun, mata pelajaran yang pernah kita
terima saat SD dulu (1980). Memperbanyak pengamalan dan praktek baik di agama
masing-masing. Membiasakan hidup sehat dan bersih dan sebagainya.
Ada 18
ranah karakter minimal yang harus diterapkan kembali di sekolah. Lebih dari itu
tergantung situasi dan keperluan. Nah tugas kita sebagai ujung tombak
pendidikan, menyampaikan ke murid melalui semua mata pelajaran.
Mengapa
pendidikan karakter tidak berdiri sendiri, seperti pendidikan sopan santun
zaman old? Ilustrasinya seperti ini, dalam rumah tangga terdiri dari 3-4 orang
anak dengan temperamen yang berbeda. Si kakak cenderung merasa lebih tua dan
maunya didulukan. Si adik paling bungsu, maunya diistimewakan. Si tengah
biasanya pembuat ricuh, karena sedikit perhatian.
Pendidikan
dimulai saat bangun pagi, ibu membiasakan anak-anaknya bangun jam 05.00, terus
shalat subuh, terus mandi, sarapan dan siap ke sekolah. (disiplin) Pembiasaan.
Lalu selama
fase pembiasaan, ibu menyelipkan praktik baik saat mandi, bergiliran dan harus
antri dengan saudara, atau mandi bersama (Tenggang rasa). Ketika mandi, pakai
air secukupnya, oles sabun, samphoo, odol seperlunya (Tanggung jawab). Saat
makan pagi, berdoa dulu, makan tidak berlebihan, tidak sambil berbicara banyak,
berbagi lauk dengan saudara, duduk tertib, mencuci piring (toleransi,kerjasama)
lalu saat akan berangkat ke sekolah, salaman dengan orang tua, dengan kakak dan
mengucapkan salam (). Dan seterusnya.
Nah, dengan
diselipkan pada saat praktek, pendidikan karakter lebih mengena. Coba kalau
diajarkan waktu tertentu, lain kesempatan dijamin masuk kiri keluar kanan.
Tidak akan dipakai. Setuju?
Lagi? Di K
13 literasi digalakkan juga. Untuk menghadapi abad 21, murid wajib melek
literasi. Literasi tidak sekedar membaca 5 menit sebelum belajar, tapi memahami
apa yang dibaca, dan menduplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Literasi
membaca hanya salah satunya.Guru sebaiknya lebih dulu mengerti literasi. Jika
masih ada yang mencak-mencak saat mengajar, berarti literasi gurunya belum
jalan. Tuh? Lebih lengkapnya, silahkan
baca di panduan K 13 tentang literasi.
Yang ini,
guru wajib menguasai IT. Waduh! Saya tidak bisa laptop! Saya sudah tua. Saya
sudah mengajar puluhan tahun, semua murid lulus. Bahkan kamu yang nulis ini
murid saya dulunya. Plak!
Kita ini
guru, yang memberikan informasi kepada murid. Informasi tidak hanya ditulis di
buku tulis atau di papan tulis. Informasi dari berbagai media. Sekarang zaman
serba cepat dan praktis. Mau buat RPP kalau harus nulis pakai tangan, butuh
waktu tersendiri. Belum lagi kalau salah tulis, stypo di sana-sini. Naa kalau
nulis di laptop atau komputer, salah tulis tinggal tekan tombol delete atau
backspace, ketik baru dan tidak meninggalkan bekas. Nyimpan berkas
seabrek-abrek, tidak makan tempat kerja. Praktis.
Begitu juga
buat media, lebih nyaman membaca tulisan yang diketik rapi daripada membaca
tulisan tangan. Tidak semua guru tulisannya seindah bradley hand, kebanyakan
mirip resep dokter. (~_~) dengan
mengetik di word bentuk huruf bisa kita variasikan sesuai imajinasi, Huruf bisa
dibesarin, bisa dikecilin. Diwarna warni dan sebagainya. Bentuk yang lain dari
biasanya membuat semangat berkreasi.
Terlambat
karena tua? Kita belajar bukan mau mengalahkan yang muda yang sudah fasih. Tapi
kita belajar, supaya bisa membuat perangkat pembelajaran sendiri, berdasarkan
imajinasi sendiri. Bukankah membuat dengan tangan sendiri, karya sendiri, lebih
sreg mengajarnya dari pada dibuatkan orang lain? Untuk kita yang sudah senior
usianya, tidak perlu belajar yang rumit mulai awal. Cukup belajar menghidupkan
dan mematikan laptop, supaya tidak asal cabut. Cukup bisa membaca plasdisk atau
CD panduan di laptop. Gampang kan?
Jadi tidak
perlu repot belajar ngetik 10 jari. Anda cukup mengamati dan membaca file demi
file yang ada. Lelah membaca, putar musik dangdut lagu “kerinduan” nya Ridho
Rhoma. Bukankah menyenangkan, belajar ditemani musik. Di jamin anda akan rindu
belajar lebih banyak lagi.
Guru tidak
bisa mengajar tanpa persiapan. Walaupun materi telah dikuasai puluhan tahun,
tetap harus membuat rencana pembelajaran. Mengapa? Mentransfer ilmu ke murid,
perlu teknik yang sesuai dengan materi yang diberikan. Setiap murid, daya
tangkap atau daya serapnya berbeda. Bolehlah, sebagai guru hafal materi, tapi
murid yang seabrek itu?
Apa saja
yang dipersiapkan? Baik, saya ingatkan
kembali. Sebelum berangkat ke sekolah, kira-kira apa yang anda siapkan supaya
sampai tepat waktu. Transport. Ya transportasi. Sepeda, motor, mobil dan
lain-lain. Mengajar juga begitu. Supaya anda tidak kelabakan di depan kelas
mendapat pertanyaan dari murid tentang materi yang dibahas, tentu sudah
mempersiapkan media yang sesuai dengan topik yang diajarkan.
Bagaimana
bentuknya, mulai yang sederhana, sampai yang canggih tergantung persediaan dan
keperluan. Tidak tersedia? Buat sendiri. Lebih tokcer.
Sebuah pilihan
Guru digugu
dan ditiru. Semua tindak tanduk guru, menjadi cermin dan contoh bagi murid.
Guru sibuk main hape saat mengajar, murid lebih sibuk main game saat belajar.
Guru berteriak-teriak saat mengajar, murid riuh rendah saat belajar. Gurunya
datang terlambat, muridnya minta pulang cepat. Pernah ngalami begitu?
Baik, mari
kita kembali ke kodrat mengapa berdiri di depan kelas. Karena kita memilih jadi
guru, bukankah begitu? Dari sekian banyak lowongan, guru paling banyak
dibutuhkan. Mulai desa terpencil sampai metropolitan, perlu guru. Di mana ada
sekolah, di situ ada guru. Semua aspek memerlukan guru. Fenomena waktu itu,
tidak ada sekolah bagus, selain sekolah guru dan perawat. Segala usaha dan
upaya dilakukan untuk bisa menjadi guru, pokoknya guru itu sesuatu.
Apapun
latar belakang kita sampai menjadi guru, tidak mengurangi tugas dan kewajiban
sebagai pendidik profesional. Apapun gelar akademis yang kita sandang, tetap
dipandang sebagai guru oleh murid. Dengan adanya penyetaraan kemampuan
akademis, linieritas guru dari berbagai tamatan yang berbeda, berhak sama jadi
guru. Kalau begitu, apakah guru itu?
Guru bukanlah
sebuah pekerjaan, namun sebuah pilihan
Anda dan
saya secara sadar dan sukarela atau alasan lainnya, memilih menjadi guru. Guru
TK, guru SD. Guru formal, guru non formal, dosen dan sebagainya. Setelah
memilih suatu profesi, mulailah kita bekerja untuknya. Bekerja sepenuh hati dan
jiwa untuk mewujudkan citra sebagai guru. Hasil bekerja sebagai guru, untuk menenangkan
batin dan mensejahterakan keluarga.
Bagaimana
dengan dengan K 13? Apakah sebuah pilihan juga? Bolehkah kembali ke kurikulum
sebelumnya? Wah, wah... ? itu anda jawab
sendiri ya. Sekarang zaman Ipad, layar sentuh, ada kamera, semua bisa dilihat
dengan nyata. boleh cek ke lapangan, berapa yang masih pakai Hp jadul? Semua
memiliki sedikitnya dua Hp. Dan yang pasti yang up date lebih sering diutak
atik. Benar?
K 13 juga
begitu. Penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Lebih spesial dan memudahkan.
Teknik dan model pengajaran tidak monoton. Guru bebas mendesain proses
pembelajaran tanpa pegal berdiri sepanjang jam di depan murid.
Dan kabar
baiknya, guru bekerjasama dengan lingkungan sebagai sumber belajar. Jadi bukan
hanya guru satu-satunya sumber informasi, semua yang berada di sekitar atau di
lingkungan bisa dijadikan sumber pembelajaran. Bukankah lebih mudah dan
praktis?
Jadilah jembatan
Siapa yang
harus mengajar K 13? Siapa lagi kalau bukan anda. Sebagai guru harus siap,
menerima pembaharuan dalam bidang pembelajaran. Gaya mengajar yang berdiri tok
di depan kelas, ceramah panjang-panjang, ditambahlah sedikit gaya baru.
Sekali-kali keluar dari kebiasaan, mendominasi pembicaraan menjadi mendengar
lebih banyak. Menjadi wasit dalam pembelajaran.
Murid
sekarang lebih kritis dan tidak suka diperintah tanpa petunjuk yang jelas. Coba
anda ingat, mulai kelas berapa murid anda tidak mau lagi duduk diam dan hanya
lipat tangan? Mereka cenderung banyak bergerak. Dan lebih suka pembelajaran
yang tidak monoton, menantang otak berpikir dan fisik bekerja. Sebaliknya, ada
saat pembelajaran yang anda berikan memberikan mereka berpikir dan bekerja,
menjadi lebih tenang dan menyenangkan. Benar?
Jika sudah
demikian, gurunya tidak laku lagi donk hanya ceramah lalu suruh mengerjakan
tugas yang ada di buku? Tentu saja masih perlu. Ceramah adalah pengantar
pembelajaran, memberitahukan materi yang akan kita berikan, memberitahukan
tujuan yang akan kita capai, memberitahukan media apa yang dipakai saat
itu. Dan tugas akhir adalah untuk
mengetahui hasil dari proses pembelajaran, berupa pengisian soal-soal yang ada
di buku siswa, atau soal-soal yang dibuat sendiri oleh guru, berkaitan dengan
materi yang telah diajarkan.
Berarti
perlu persiapan sebelum mengajar, supaya tercapai unsur yang di atas? Ya
iyalah? Persiapan mendasar bagi guru antara lain, membuat rencana program
pembelajaran (RPP), sebagai pedoman untuk mengajar. RPP itu diibaratkan padang
rumput yang hijau dan dibatasi oleh pagar-pagar kawat, sehingga sapi-kambing
kita tidak merumput keluar dari kebun yang sudah dipagari. Begitulah fungsi RPP
memudahkan kita menyampaikan materi untuk kembali ke fokus pembelajaran.
Bagian lain
yang tidak kalah pentingnya yaitu penggunaan media. Dari rumah sudah terbayang,
hari ini akan membawa murid belajar tentang materi apa, supaya jadi apa dan
bisa membuat apa. Angan yang ada dalam pikiran anda, tidak akan terwujud, tanpa
bahan yang dibuat dan digunakan saat mengajar. Ah, nanti ada di sekolah tinggal
cari. Ya kalau sempat. Ya kalau ingat. Sesampainya di sekolah, bel berbunyi terbirit-birit
mengikuti murid memasuki ruangan. Dan belajar tanpa media.
Siapkan
sebelumnya. Sisihkan waktu untuk membuat media, menguji sebelum dibawa ke
kelas. Yakinkan dulu itu yang terbaik anda punya. Dan patenkan milik anda.
Kereen kan? Guru itu semua kreatif, sempatkan waktumu, sayang kan kalau sudah
pegal berdiri sepanjang jam di kelas tanpa hasil yang memuaskan? Sudah
meninggalkan rumah dan berjalan jauh ke sekolah tanpa membawa manfaat bagi
sesama? Sudah capek, tidak dapat pahalanya.
Selanjutnya,
RPP sudah baik dan up date, media terunik dan keren, ramulah dengan teknik
pendekatan mengajar yang disarankan. Ada banyak pendekatan yang membuat guru
dan murid berinteraksi dalam proses pembelajaran. Salah satunya pendekatan
Saintifik. Pendekatan yang mempererat hubungan guru dan murid menjadi lebih
dekat. Menjadi lebih meriah. Menjadi lebih aktif.
Apakah
pendekatan saintifik itu berupa penataan bangku berubah setiap hari? Hari
bentuk L, besok bentuk prasmanan meja makan di restoran? Beh, saya bertanya pada
anda, anda mau memberi materi pelajaran atau jadi penata ruang? Kalau memberi
materi ya ke muridnya, tidak pengaruh bentuk bangku duduknya seperti apa.
Bukankah menyulitkan menerima materi, kalau duduk bergerombol, membelakangi
guru mengajar. Yang melototi gurunya sampai menganga mulutnya belum tentu
nyambung, apalagi memunggungi. Percaya?
Kalau
praktek, bagaimana? Dilihat praktek apa dulu. Misal, praktek perindividu atau
berkelompok. Saya lebih setuju jika praktek yang memerlukan keseriusan, yang
pakai alat-alat tertentu di ruang khusus seperti aula, laboratorium atau ruang
kosong yang disetting khusus. Praktek yang memerlukan pembuktian alam, bawa
keluar ruangan. Hirup udara alam bebas. Rasakan hembusan angin semilir. Mau merasakan benar ada angin yakni udara
yang bergerak, jangan berkutat dalam AC,atau hidupin kipas angin, gak alami.
Praktek
dengan duduk-duduk berkelompok di ruang terbuka, memungkinkan konsentrasi
terfokus. Anak tanpa ditekan harus berbuat ini itu, secara spontan akan terbuka
idenya, dan bisa melanjutkan sendiri pelajaran yang diberikan. Mengajar
tematik, memadukan 2 sampai 3 muatan pelajaran dalam satu tema, bukan hal yang
sulit lagi. Istilahnya, sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Sekali anda
membawa murid praktek di luar ruang, manfaat didapat, menghirup udara segar, jantung
sehat, mengajar menyenangkan, inovasi bermunculan, situasi mengasyikkan.
Setuju?
Ada yang
bertanya, apa semua praktek harus keluar ruangan? Kembali ke RPP yang anda
buat, ke media yang disiapkan. Ke situasi saat itu. Andalah yang menentukan,
yang pasti pilih yang terbaik dan menghasilkan timbal balik.
Lepaskan panah
Mulai kapan
k 13 diterapkan di sekolah? Tergantung kesiapan sekolah masing-masing. Yang
pasti beberapa sekolah ada yang sudah full k 13 saat ini. Sepertiga dari
keseluruhan sekolah di Indonesia, baru memulai untuk kelas satu dan kelas
empat. Baik yang sudah lama maupun yang
baru menerapkan, sama-sama perlu pembinaan.
Program
pemerintah tahun 2019, semua sekolah sudah menerapkan k 13. Tidak ada
pengecualian. Mulai dari kota sampai ke desa-desa terpencil yang ada sekolah.
Pertanyaannya, sejauh mana persiapan pemerintah dalam menyiapkan sarana dan
prasarana? Sejauh mana guru sebagai pendidik menyiapkan diri terhadap
perubahan?
Karena
fokusnya adalah pelaksanaan dan harus diterapkan, maka yang pertama harus siap
adalah guru. Guru harus punya ilmu. Guru harus bisa melaksanakannya. Sanggahan
pertama biasa muncul adalah tidak tersedianya buku paket. Guru yang pernah
belajar sedikit dan hanya di kota. Dan bla, bla bla. Benar?
Sebuah
kisah,
Disebuah
desa pesisir, seorang juragan terkaya
mengadakan sayembara menyeberang sungai kecil ke desa sebelahnya. Siapa yang
bisa sampai ke seberang, tanpa kurang suatu apapun, akan dinikahkan dengan anak
gadisnya yang tercantik dan diwarisi ¾ harta kekayaannya. Dalam sungai tersebut
hidup puluhan ekor buaya lapar dan ganas.
Hari
perlombaan ditetapkan, puluhan pemuda dari beberapa desa berkumpul untuk
mengikuti lomba. Mengetahui sungai yang akan dilalui banyak buayanya, para
pemuda berdiri dan mematung dipinggir sungai. Dua jam berlalu belum ada satupun
yang berani menyeberang. Sampai suatu ketika...
“Klepak,
klepak, klepak....”,.suara kepakan orang berenang diantara buaya yang menyambar
bergulung-gulung. Seorang pemuda terengah-engah dengan nafas memburu menaiki
pinggir sungai dengan pucat pasi. Orang-orang bersorak sorai bertepuk tangan.
Panitia mendekati pemuda yang menggigil kedinginan dan bertanya, apa rahasianya
bisa sampai ke seberang. Si pemuda menyeringai memandang ke seberang, sambil
berteriak “Hei! siapa tadi yang mendorongku?”
Yups kita
kembali ke k 13. Untuk menguasai sesuatu yang baru kita harus didorong paksa
mengambil langkah. Kita harus posisikan keadaan kepepet supaya bisa
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Jika tidak dipaksa terjun dan ambil
bagian, sampai habis zamanpun tidak akan dilaksanakan. Betul?
Dengan
lambatnya buku paket di tangan, belum ditatar dan sebagainya, tidak menyurutkan
semangat untuk tetap melaksanakan K 13 di sekolah. Kitalah buku paketnya,
kitalah sumber pembelajarannya. Karena semua di tangan kita, maka untuk
mencapai seberang dan menyampaikan ke murid bukan halangan. Belum ditatar? Cara
mendapatkan ilmu tidak melulu dari penataran, yang diselenggarakan pemerintah.
Anda bisa belajar sendiri, atau ikut pertemuan KKG di sekolah yang sudah
melaksanakan.
Lepaskan
kekangan batin anda, lepaskan perasaan ragu-ragu, biarkan diri anda berekspresi
sesuai kata hati. Ingat! Ilmu yang tidak dibagikan kepada orang lain, akan
menguap tanpa bekas. Bahkan kita sendiri lebih dulu melupakannya.
Berdayakan
lingkunganmu
Bagaimana
ciri-ciri sekolah yang sudah melaksanakan K 13? Apakah ada perubahan dari segi
pengajaran? Ataukah dari segi penataan lingkungan? Baik. Dengan kurikulum baru,
tentu anda lelah dengan suasana lama. Tatalah mulai dari dalam kelas sendiri.
Sediakan perpustakaan mini di pojok ruangan. Pajangkan alat peraga buatanmu dan
hasil karya muridmu. Seting suasana kelas menjadi tempat yang nyaman ditempati.
Dan seterusnya.
Di luar
kelas, lingkungan sekolah manfaatkan lahan kosong untuk praktek nyata. contoh,
Menanam tanaman yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti
sayur-sayuran. Pengenalan tentang aneka pangan. Semua itu libatkan anak yang
menanam, bukan tukang kebun, lho?
Bidang
religius, adakan pencerahan rohani bergantian. Tidak hanya satu agama, supaya
tidak ada kotak-kotak kepercayaan. Tanamkan rasa kebhinekaan dalam diri anak,
bahwa tidak hanya satu jenis saja ciptaan Tuhan, tetapi beragam. Tidak hanya
satu kepercayaan yang ada, tetapi bermacam-macam. Tidak ada yang terbaik,
tetapi semua menuju kebaikan.
Budayakan
literasi dengan perpustakaan mini di sudut-sudut kelas, di area tempat
bersantai, supaya semua tergerak membaca. Gurunya ikut membaca bersama murid.
Karya murid-murid dipajang tidak hanya ketrampilan tangan, tapi ketrampilan
lain seperti cerita pendek, puisi dan gambar. Karya guru dipajang berupa alat
peraga buatan sendiri, buku buatan sendiri, dan sebagainya.
Abadikan
kegiatan-kegiatan menarik yang terjadi saat proses belajar mengajar, menemukan
metode atau model baru dalam melakukan sesuatu praktek, inovasi-inovasi tak
terduga. Kumpulan dokumen menambah wawasan warga sekolah, dan menambah angka
kredit bila mau usul pangkat. Sipp kan?
Dan
teruslah menambah wawasan dimanapun anda berada, cintailah dan banggalah dengan
pilihan anda. Salam PPK.
Profil Penulis
Dia diangkat menjadi guru didaerah
3 T, terpencil, terluar dan terisolir. Suka duka menjadi guru didaerah minus,
menjadikan ide membuat cerita dan berbagi ilmu pada sesama.
Kini dia di kenal
sebagai:
-
Pengawas
sekolah
-
Penulis
buku Tak Cukup Sampai Di Sini
-
Guru
preneur
Untuk mengundangnya atau konsultasi, silahkan hubungi :
-
Wa
08115988559
-
Telegram
personal : @Rasti Nike Fb :Rasti nike
-
Mengapa
buku ini wajib anda miliki?
1. Tips praktis
menyambut perubahan
2. Teknik
menarik mengatasi gaptek
3. Bagaimana
membuat solusi dalam keterbatasan
4. Bagaimana
menerapkan literasi dan pendidikan karakter tanpa menggurui?
5. Mengatasi
ketakutan dan ketidakmampuan
Persembahan
Komentar
Posting Komentar