Tips maknyoss guru now





Tips maknyoss guru now
Sebelum terjun
Beberapa tahun sekali, kurikulum berganti nama. Sekitar sebelas kali ganti kurikulum. Zaman kita sekolah SD dulu, kurikulum tahun 1975-an, kemudian direvisi menjadi kurikulum  1984, terus disempurnakan lagi menjadi kurikulum 2004, dua tahun setelahnya menjadi KTSP 2006, dan sekarang kurikulum 2013.
Bergantinya kurikulum, secara otomatis  berganti juga sistem dan cara penggunaannya di sekolah. Buku-buku ganti judulnya, bertambah banyak materinya. Metode-metode bervariasi disisipkan. Teknik mengajar harus menyesuaikan kebutuhan.  Penyempurnaan disana sini, supaya pas dengan zaman. Begitulah perjalanannya.
Sekian tahun perjalanan kurikulum, ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. Yakni sejarah perjalanan yang telah kita lewati. Suka duka dalam melaksanakan pengajaran di kelas, dari tahun ke tahun, kita rasakan.  Dari kurikulum lama sampai yang terbaru. Semua itu jadi pengalaman yang tak terlupakan.
Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, suka tidak suka, siap atau tidak, wajib mengikuti dan mengajarkan yang terbaru, sesuai zamannya. Guru dituntut harus up date. Numpang slogan sepeda motor, “selalu di depan”, begitulah guru.  Iya sih, tapi yang kemarin aja belum paham-paham sudah ganti lagi. Terus besok ganti apa lagi? Itu wajar. Setiap guru mesti mengalami kejenuhan mengikuti pembaharuan. Apalagi berurusan dengan membuat perangkat mengajar di kelas. Ya apa iyaa?
Untuk memudahkan memahami dan mengusir kegalauan anda, saya tuliskan buku ini. Anda sudah siap untuk menyimaknya?
Di buku ini saya tulis semudah mungkin. Saya tahu anda orang yang nggak sabaran dan ingin segera tahu apa yang harus diperbuat bukan? Selain itu ingin menjadi guru yang terdepan. Okee... berdoa menurut agama masing-masing. Kita go...

Pembekalan
Sebelum lanjut ke materi pembelajaran, mari pahami dulu apa itu kurikulum 2013. Selanjutnya kita sebut K 13, supaya mudah ditulis dan mudah diingat.
K 13 adalah kurikulum berbasis kompetensi abad 21, yaitu kurikulum yang disempurnakan, berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Artinya, pembelajaran yang harus kita ajarkan, kembali ke hakikat dan berpedoman pada lambang negara kita, yaitu Pancasila. Lho, apa kemarin belum pancasilais? Sebenarnya mulai dulu sudah seperti itu, hanya saja belum difokuskan pada semua butir.
Seringnya terjadi penyimpangan yang dilakukan siswa bahkan mahasiswa, seperti perilaku negatif, ( tawuran, konsumsi narkotika, ngelem, mencuri, sex bebas dan lain-lain), membuat dunia pendidikan kita tercoreng. Karena itu, pemerintah menginginkan nilai-nilai pancasila kembali diterapkan secara spesifik dan kontinyu di sekolah-sekolah. Mengapa bukan langsung ke masyarakat yang bermasalah?
Usia sekolah adalah usia paling rawan terhadap hal negatif. Dimana pada usia itu, anak-anak belum mampu menyaring secara efektif berita atau kejadian yang ada di masyarakat. Anak dalam fase lebih banyak meniru, tanpa berfikir itu keliru. Oleh karena itu, tugas guru untuk memberi pemahaman tentang yang baik dilakukan dan meminimalisir  pengaruh negatif yang masuk. Dalam hal ini, tentunya gurunya harus berusaha jadi contoh dulu. Jangan dibalik, guru mencontohi muridnya.
Paling mendesak, harus  dilakukan sekarang diantaranya memperkuat karakter siswa melalui program penguatan karakter di sekolah. Mengembalikan pendidikan budi pekerti dan sopan santun, mata pelajaran yang pernah kita terima saat SD dulu (1980). Memperbanyak pengamalan dan praktek baik di agama masing-masing. Membiasakan hidup sehat dan bersih dan sebagainya.
Ada 18 ranah karakter minimal yang harus diterapkan kembali di sekolah. Lebih dari itu tergantung situasi dan keperluan. Nah tugas kita sebagai ujung tombak pendidikan, menyampaikan ke murid melalui semua mata pelajaran.
Mengapa pendidikan karakter tidak berdiri sendiri, seperti pendidikan sopan santun zaman old? Ilustrasinya seperti ini, dalam rumah tangga terdiri dari 3-4 orang anak dengan temperamen yang berbeda. Si kakak cenderung merasa lebih tua dan maunya didulukan. Si adik paling bungsu, maunya diistimewakan. Si tengah biasanya pembuat ricuh, karena sedikit perhatian.
Pendidikan dimulai saat bangun pagi, ibu membiasakan anak-anaknya bangun jam 05.00, terus shalat subuh, terus mandi, sarapan dan siap ke sekolah. (disiplin) Pembiasaan.
Lalu selama fase pembiasaan, ibu menyelipkan praktik baik saat mandi, bergiliran dan harus antri dengan saudara, atau mandi bersama (Tenggang rasa). Ketika mandi, pakai air secukupnya, oles sabun, samphoo, odol seperlunya (Tanggung jawab). Saat makan pagi, berdoa dulu, makan tidak berlebihan, tidak sambil berbicara banyak, berbagi lauk dengan saudara, duduk tertib, mencuci piring (toleransi,kerjasama) lalu saat akan berangkat ke sekolah, salaman dengan orang tua, dengan kakak dan mengucapkan salam (). Dan seterusnya.
Nah, dengan diselipkan pada saat praktek, pendidikan karakter lebih mengena. Coba kalau diajarkan waktu tertentu, lain kesempatan dijamin masuk kiri keluar kanan. Tidak akan dipakai. Setuju?
Lagi? Di K 13 literasi digalakkan juga. Untuk menghadapi abad 21, murid wajib melek literasi. Literasi tidak sekedar membaca 5 menit sebelum belajar, tapi memahami apa yang dibaca, dan menduplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Literasi membaca hanya salah satunya.Guru sebaiknya lebih dulu mengerti literasi. Jika masih ada yang mencak-mencak saat mengajar, berarti literasi gurunya belum jalan. Tuh?  Lebih lengkapnya, silahkan baca di panduan K 13 tentang literasi.
Yang ini, guru wajib menguasai IT. Waduh! Saya tidak bisa laptop! Saya sudah tua. Saya sudah mengajar puluhan tahun, semua murid lulus. Bahkan kamu yang nulis ini murid saya dulunya. Plak!
Kita ini guru, yang memberikan informasi kepada murid. Informasi tidak hanya ditulis di buku tulis atau di papan tulis. Informasi dari berbagai media. Sekarang zaman serba cepat dan praktis. Mau buat RPP kalau harus nulis pakai tangan, butuh waktu tersendiri. Belum lagi kalau salah tulis, stypo di sana-sini. Naa kalau nulis di laptop atau komputer, salah tulis tinggal tekan tombol delete atau backspace, ketik baru dan tidak meninggalkan bekas. Nyimpan berkas seabrek-abrek, tidak makan tempat kerja. Praktis.
Begitu juga buat media, lebih nyaman membaca tulisan yang diketik rapi daripada membaca tulisan tangan. Tidak semua guru tulisannya seindah bradley hand, kebanyakan mirip resep dokter. (~_~)  dengan mengetik di word bentuk huruf bisa kita variasikan sesuai imajinasi, Huruf bisa dibesarin, bisa dikecilin. Diwarna warni dan sebagainya. Bentuk yang lain dari biasanya membuat semangat berkreasi.
Terlambat karena tua? Kita belajar bukan mau mengalahkan yang muda yang sudah fasih. Tapi kita belajar, supaya bisa membuat perangkat pembelajaran sendiri, berdasarkan imajinasi sendiri. Bukankah membuat dengan tangan sendiri, karya sendiri, lebih sreg mengajarnya dari pada dibuatkan orang lain? Untuk kita yang sudah senior usianya, tidak perlu belajar yang rumit mulai awal. Cukup belajar menghidupkan dan mematikan laptop, supaya tidak asal cabut. Cukup bisa membaca plasdisk atau CD panduan di laptop. Gampang kan?
Jadi tidak perlu repot belajar ngetik 10 jari. Anda cukup mengamati dan membaca file demi file yang ada. Lelah membaca, putar musik dangdut lagu “kerinduan” nya Ridho Rhoma. Bukankah menyenangkan, belajar ditemani musik. Di jamin anda akan rindu belajar lebih banyak lagi.
Guru tidak bisa mengajar tanpa persiapan. Walaupun materi telah dikuasai puluhan tahun, tetap harus membuat rencana pembelajaran. Mengapa? Mentransfer ilmu ke murid, perlu teknik yang sesuai dengan materi yang diberikan. Setiap murid, daya tangkap atau daya serapnya berbeda. Bolehlah, sebagai guru hafal materi, tapi murid yang seabrek itu?
Apa saja yang dipersiapkan?  Baik, saya ingatkan kembali. Sebelum berangkat ke sekolah, kira-kira apa yang anda siapkan supaya sampai tepat waktu. Transport. Ya transportasi. Sepeda, motor, mobil dan lain-lain. Mengajar juga begitu. Supaya anda tidak kelabakan di depan kelas mendapat pertanyaan dari murid tentang materi yang dibahas, tentu sudah mempersiapkan media yang sesuai dengan topik yang diajarkan.
Bagaimana bentuknya, mulai yang sederhana, sampai yang canggih tergantung persediaan dan keperluan. Tidak tersedia? Buat sendiri. Lebih tokcer.

Sebuah pilihan
Guru digugu dan ditiru. Semua tindak tanduk guru, menjadi cermin dan contoh bagi murid. Guru sibuk main hape saat mengajar, murid lebih sibuk main game saat belajar. Guru berteriak-teriak saat mengajar, murid riuh rendah saat belajar. Gurunya datang terlambat, muridnya minta pulang cepat. Pernah ngalami begitu?
Baik, mari kita kembali ke kodrat mengapa berdiri di depan kelas. Karena kita memilih jadi guru, bukankah begitu? Dari sekian banyak lowongan, guru paling banyak dibutuhkan. Mulai desa terpencil sampai metropolitan, perlu guru. Di mana ada sekolah, di situ ada guru. Semua aspek memerlukan guru. Fenomena waktu itu, tidak ada sekolah bagus, selain sekolah guru dan perawat. Segala usaha dan upaya dilakukan untuk bisa menjadi guru, pokoknya guru itu sesuatu.
Apapun latar belakang kita sampai menjadi guru, tidak mengurangi tugas dan kewajiban sebagai pendidik profesional. Apapun gelar akademis yang kita sandang, tetap dipandang sebagai guru oleh murid. Dengan adanya penyetaraan kemampuan akademis, linieritas guru dari berbagai tamatan yang berbeda, berhak sama jadi guru. Kalau begitu, apakah guru itu?
Guru bukanlah sebuah pekerjaan, namun sebuah pilihan
Anda dan saya secara sadar dan sukarela atau alasan lainnya, memilih menjadi guru. Guru TK, guru SD. Guru formal, guru non formal, dosen dan sebagainya. Setelah memilih suatu profesi, mulailah kita bekerja untuknya. Bekerja sepenuh hati dan jiwa untuk mewujudkan citra sebagai guru. Hasil bekerja sebagai guru, untuk menenangkan batin dan mensejahterakan keluarga.
Bagaimana dengan dengan K 13? Apakah sebuah pilihan juga? Bolehkah kembali ke kurikulum sebelumnya? Wah, wah... ? itu anda  jawab sendiri ya. Sekarang zaman Ipad, layar sentuh, ada kamera, semua bisa dilihat dengan nyata. boleh cek ke lapangan, berapa yang masih pakai Hp jadul? Semua memiliki sedikitnya dua Hp. Dan yang pasti yang up date lebih sering diutak atik. Benar?
K 13 juga begitu. Penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Lebih spesial dan memudahkan. Teknik dan model pengajaran tidak monoton. Guru bebas mendesain proses pembelajaran tanpa pegal berdiri sepanjang jam di depan murid.
Dan kabar baiknya, guru bekerjasama dengan lingkungan sebagai sumber belajar. Jadi bukan hanya guru satu-satunya sumber informasi, semua yang berada di sekitar atau di lingkungan bisa dijadikan sumber pembelajaran. Bukankah lebih mudah dan praktis?
Jadilah jembatan
Siapa yang harus mengajar K 13? Siapa lagi kalau bukan anda. Sebagai guru harus siap, menerima pembaharuan dalam bidang pembelajaran. Gaya mengajar yang berdiri tok di depan kelas, ceramah panjang-panjang, ditambahlah sedikit gaya baru. Sekali-kali keluar dari kebiasaan, mendominasi pembicaraan menjadi mendengar lebih banyak. Menjadi wasit dalam pembelajaran.
Murid sekarang lebih kritis dan tidak suka diperintah tanpa petunjuk yang jelas. Coba anda ingat, mulai kelas berapa murid anda tidak mau lagi duduk diam dan hanya lipat tangan? Mereka cenderung banyak bergerak. Dan lebih suka pembelajaran yang tidak monoton, menantang otak berpikir dan fisik bekerja. Sebaliknya, ada saat pembelajaran yang anda berikan memberikan mereka berpikir dan bekerja, menjadi lebih tenang dan menyenangkan. Benar?
Jika sudah demikian, gurunya tidak laku lagi donk hanya ceramah lalu suruh mengerjakan tugas yang ada di buku? Tentu saja masih perlu. Ceramah adalah pengantar pembelajaran, memberitahukan materi yang akan kita berikan, memberitahukan tujuan yang akan kita capai, memberitahukan media apa yang dipakai saat itu.  Dan tugas akhir adalah untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran, berupa pengisian soal-soal yang ada di buku siswa, atau soal-soal yang dibuat sendiri oleh guru, berkaitan dengan materi yang telah diajarkan.
Berarti perlu persiapan sebelum mengajar, supaya tercapai unsur yang di atas? Ya iyalah? Persiapan mendasar bagi guru antara lain, membuat rencana program pembelajaran (RPP), sebagai pedoman untuk mengajar. RPP itu diibaratkan padang rumput yang hijau dan dibatasi oleh pagar-pagar kawat, sehingga sapi-kambing kita tidak merumput keluar dari kebun yang sudah dipagari. Begitulah fungsi RPP memudahkan kita menyampaikan materi untuk kembali ke fokus pembelajaran.
Bagian lain yang tidak kalah pentingnya yaitu penggunaan media. Dari rumah sudah terbayang, hari ini akan membawa murid belajar tentang materi apa, supaya jadi apa dan bisa membuat apa. Angan yang ada dalam pikiran anda, tidak akan terwujud, tanpa bahan yang dibuat dan digunakan saat mengajar. Ah, nanti ada di sekolah tinggal cari. Ya kalau sempat. Ya kalau ingat. Sesampainya di sekolah, bel berbunyi terbirit-birit mengikuti murid memasuki ruangan. Dan belajar tanpa media.
Siapkan sebelumnya. Sisihkan waktu untuk membuat media, menguji sebelum dibawa ke kelas. Yakinkan dulu itu yang terbaik anda punya. Dan patenkan milik anda. Kereen kan? Guru itu semua kreatif, sempatkan waktumu, sayang kan kalau sudah pegal berdiri sepanjang jam di kelas tanpa hasil yang memuaskan? Sudah meninggalkan rumah dan berjalan jauh ke sekolah tanpa membawa manfaat bagi sesama? Sudah capek, tidak dapat pahalanya.
Selanjutnya, RPP sudah baik dan up date, media terunik dan keren, ramulah dengan teknik pendekatan mengajar yang disarankan. Ada banyak pendekatan yang membuat guru dan murid berinteraksi dalam proses pembelajaran. Salah satunya pendekatan Saintifik. Pendekatan yang mempererat hubungan guru dan murid menjadi lebih dekat. Menjadi lebih meriah. Menjadi lebih aktif.
Apakah pendekatan saintifik itu berupa penataan bangku berubah setiap hari? Hari bentuk L, besok bentuk prasmanan meja makan di restoran? Beh, saya bertanya pada anda, anda mau memberi materi pelajaran atau jadi penata ruang? Kalau memberi materi ya ke muridnya, tidak pengaruh bentuk bangku duduknya seperti apa. Bukankah menyulitkan menerima materi, kalau duduk bergerombol, membelakangi guru mengajar. Yang melototi gurunya sampai menganga mulutnya belum tentu nyambung, apalagi memunggungi. Percaya?
Kalau praktek, bagaimana? Dilihat praktek apa dulu. Misal, praktek perindividu atau berkelompok. Saya lebih setuju jika praktek yang memerlukan keseriusan, yang pakai alat-alat tertentu di ruang khusus seperti aula, laboratorium atau ruang kosong yang disetting khusus. Praktek yang memerlukan pembuktian alam, bawa keluar ruangan. Hirup udara alam bebas. Rasakan hembusan angin semilir.  Mau merasakan benar ada angin yakni udara yang bergerak, jangan berkutat dalam AC,atau hidupin kipas angin, gak alami.
Praktek dengan duduk-duduk berkelompok di ruang terbuka, memungkinkan konsentrasi terfokus. Anak tanpa ditekan harus berbuat ini itu, secara spontan akan terbuka idenya, dan bisa melanjutkan sendiri pelajaran yang diberikan. Mengajar tematik, memadukan 2 sampai 3 muatan pelajaran dalam satu tema, bukan hal yang sulit lagi. Istilahnya, sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Sekali anda membawa murid praktek di luar ruang, manfaat didapat, menghirup udara segar, jantung sehat, mengajar menyenangkan, inovasi bermunculan, situasi mengasyikkan. Setuju?
Ada yang bertanya, apa semua praktek harus keluar ruangan? Kembali ke RPP yang anda buat, ke media yang disiapkan. Ke situasi saat itu. Andalah yang menentukan, yang pasti pilih yang terbaik dan menghasilkan timbal balik.
Lepaskan panah
Mulai kapan k 13 diterapkan di sekolah? Tergantung kesiapan sekolah masing-masing. Yang pasti beberapa sekolah ada yang sudah full k 13 saat ini. Sepertiga dari keseluruhan sekolah di Indonesia, baru memulai untuk kelas satu dan kelas empat.  Baik yang sudah lama maupun yang baru menerapkan, sama-sama perlu pembinaan.
Program pemerintah tahun 2019, semua sekolah sudah menerapkan k 13. Tidak ada pengecualian. Mulai dari kota sampai ke desa-desa terpencil yang ada sekolah. Pertanyaannya, sejauh mana persiapan pemerintah dalam menyiapkan sarana dan prasarana? Sejauh mana guru sebagai pendidik menyiapkan diri terhadap perubahan?
Karena fokusnya adalah pelaksanaan dan harus diterapkan, maka yang pertama harus siap adalah guru. Guru harus punya ilmu. Guru harus bisa melaksanakannya. Sanggahan pertama biasa muncul adalah tidak tersedianya buku paket. Guru yang pernah belajar sedikit dan hanya di kota. Dan bla, bla bla. Benar?
Sebuah kisah,
Disebuah desa pesisir, seorang  juragan terkaya mengadakan sayembara menyeberang sungai kecil ke desa sebelahnya. Siapa yang bisa sampai ke seberang, tanpa kurang suatu apapun, akan dinikahkan dengan anak gadisnya yang tercantik dan diwarisi ¾ harta kekayaannya. Dalam sungai tersebut hidup puluhan ekor buaya lapar dan ganas.
Hari perlombaan ditetapkan, puluhan pemuda dari beberapa desa berkumpul untuk mengikuti lomba. Mengetahui sungai yang akan dilalui banyak buayanya, para pemuda berdiri dan mematung dipinggir sungai. Dua jam berlalu belum ada satupun yang berani menyeberang. Sampai suatu ketika...
“Klepak, klepak, klepak....”,.suara kepakan orang berenang diantara buaya yang menyambar bergulung-gulung. Seorang pemuda terengah-engah dengan nafas memburu menaiki pinggir sungai dengan pucat pasi. Orang-orang bersorak sorai bertepuk tangan. Panitia mendekati pemuda yang menggigil kedinginan dan bertanya, apa rahasianya bisa sampai ke seberang. Si pemuda menyeringai memandang ke seberang, sambil berteriak “Hei! siapa tadi yang mendorongku?”
Yups kita kembali ke k 13. Untuk menguasai sesuatu yang baru kita harus didorong paksa mengambil langkah. Kita harus posisikan keadaan kepepet supaya bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi. Jika tidak dipaksa terjun dan ambil bagian, sampai habis zamanpun tidak akan dilaksanakan. Betul?
Dengan lambatnya buku paket di tangan, belum ditatar dan sebagainya, tidak menyurutkan semangat untuk tetap melaksanakan K 13 di sekolah. Kitalah buku paketnya, kitalah sumber pembelajarannya. Karena semua di tangan kita, maka untuk mencapai seberang dan menyampaikan ke murid bukan halangan. Belum ditatar? Cara mendapatkan ilmu tidak melulu dari penataran, yang diselenggarakan pemerintah. Anda bisa belajar sendiri, atau ikut pertemuan KKG di sekolah yang sudah melaksanakan.
Lepaskan kekangan batin anda, lepaskan perasaan ragu-ragu, biarkan diri anda berekspresi sesuai kata hati. Ingat! Ilmu yang tidak dibagikan kepada orang lain, akan menguap tanpa bekas. Bahkan kita sendiri lebih dulu melupakannya.
Berdayakan lingkunganmu
Bagaimana ciri-ciri sekolah yang sudah melaksanakan K 13? Apakah ada perubahan dari segi pengajaran? Ataukah dari segi penataan lingkungan? Baik. Dengan kurikulum baru, tentu anda lelah dengan suasana lama. Tatalah mulai dari dalam kelas sendiri. Sediakan perpustakaan mini di pojok ruangan. Pajangkan alat peraga buatanmu dan hasil karya muridmu. Seting suasana kelas menjadi tempat yang nyaman ditempati. Dan seterusnya.
Di luar kelas, lingkungan sekolah manfaatkan lahan kosong untuk praktek nyata. contoh, Menanam tanaman yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sayur-sayuran. Pengenalan tentang aneka pangan. Semua itu libatkan anak yang menanam, bukan tukang kebun, lho?
Bidang religius, adakan pencerahan rohani bergantian. Tidak hanya satu agama, supaya tidak ada kotak-kotak kepercayaan. Tanamkan rasa kebhinekaan dalam diri anak, bahwa tidak hanya satu jenis saja ciptaan Tuhan, tetapi beragam. Tidak hanya satu kepercayaan yang ada, tetapi bermacam-macam. Tidak ada yang terbaik, tetapi semua menuju kebaikan.
Budayakan literasi dengan perpustakaan mini di sudut-sudut kelas, di area tempat bersantai, supaya semua tergerak membaca. Gurunya ikut membaca bersama murid. Karya murid-murid dipajang tidak hanya ketrampilan tangan, tapi ketrampilan lain seperti cerita pendek, puisi dan gambar. Karya guru dipajang berupa alat peraga buatan sendiri, buku buatan sendiri, dan sebagainya.
Abadikan kegiatan-kegiatan menarik yang terjadi saat proses belajar mengajar, menemukan metode atau model baru dalam melakukan sesuatu praktek, inovasi-inovasi tak terduga. Kumpulan dokumen menambah wawasan warga sekolah, dan menambah angka kredit bila mau usul pangkat. Sipp kan?
Dan teruslah menambah wawasan dimanapun anda berada, cintailah dan banggalah dengan pilihan anda. Salam PPK.




Profil Penulis
Dia diangkat menjadi guru didaerah 3 T, terpencil, terluar dan terisolir. Suka duka menjadi guru didaerah minus, menjadikan ide membuat cerita dan berbagi ilmu pada sesama.
Kini dia di kenal sebagai:
-          Pengawas sekolah
-          Penulis buku Tak Cukup Sampai Di Sini
-          Guru preneur
Untuk mengundangnya atau konsultasi, silahkan hubungi :
-          Wa 08115988559
-          Telegram personal : @Rasti Nike  Fb :Rasti nike
-           
Mengapa buku ini wajib anda miliki?
1.      Tips praktis menyambut perubahan
2.      Teknik menarik mengatasi gaptek
3.      Bagaimana membuat solusi dalam keterbatasan
4.      Bagaimana menerapkan literasi dan pendidikan karakter tanpa menggurui?
5.      Mengatasi ketakutan dan ketidakmampuan







Persembahan





Komentar

Postingan populer dari blog ini